Kebaikan yang Sia-Sia

Bila hari ini kezaliman masih ada di sekitar kita.

Bila hari ini rasanya usaha kita hanya sia-sia.

Bila hari ini rasanya boikot itu tak berguna.

Bila hari ini rasanya donasi itu terlampau kecil nilainya.

Maka agaknya kita telah lupa suatu kisah.

Pada hari itu, Namrud dan kaumnya berupaya membakar Nabi Ibrahim Alaihissalam yang telah mematahkan hujjah mereka.
Dinyalakan api terbesar yang belum pernah ada sebelumnya.
Saat itu, itulah api terbesar yang pernah dibuat umat manusia.
Percikannya besar dan nyalanya begitu tinggi.
Begitu besar ia menyala, hingga 50 hari lamanya.

Pada hari itu pula, kecuali cicak, tiada seekor hewan melatapun yang datang melainkan untuk memadamkan api itu.
Padahal tanpa mereka datangpun akan sama saja.
Namun semuanya tetap datang dan berusaha.

Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (QS. Al-Anbiya ayat 69)

Benar saja, bukanlah melalui para hewan itu api itu padam. Namun Allah-lah yang selamatkan Sang Nabi.
Hanya dengan perintah-Nya, maka dinginlah api pada hari itu.

Hari itu, cicak tak berhasil membakar Nabi Ibrahim Alaihissalam dengan tiupannya.
Namun hari ini disematkan padanya julukan fuwaisiq, si fasik kecil.

Hari itu, hewan-hewan lain pun tak berhasil memadamkan api dengan usahanya.
Namun Allah ﷻ beri keselamatan yang lebih baik untuk Nabi-Nya.

Tiada pengaruh berarti dari usaha mereka, namun usaha itu sendirilah yang telah membedakan mereka.

Maka hari ini, bila usaha itu rasanya sia-sia, boikot rasanya tak berguna, dan donasi pun hanya sebisanya, maka tak mengapa.
Bukankah segala sesuatu diukur oleh niatnya?

Boleh jadi, Allah ﷻ justru akan memberi yang lebih baik untuk mereka yang ingin kita bantu.
Boleh jadi, amalan itulah yang mendatangkan rahmat-Nya dan membawa kita ke surga.

Maka beramallah semampunya, meski nilainya hanya sebutir kurma.”

Link Instagram:
https://www.instagram.com/p/CHfT1nvMRVZ/

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *