Al-Hikmah, Sebab Berubahnya Seseorang

Al-Qur’an adalah Kalamullah. Mereka yang mendapatkan Hikmah dari-Nya tentu akan tersentuh hatinya.

Itulah yang dirasakan Abu Dzar Al-Ghifari, ketika mendengarnya langsung dari Rasulullah ﷺ dan dijadikannya sebuah prinsip hidupnya.

Ialah Jundub bin Junadah yang dikenal sebagai Abu Dzar Al-Ghifari. Ia dijuluki Abu Dzar yang artinya ‘Bapaknya semut kecil’ dan Al Ghifari karena berasal dari bangsa Ghifar.
Ketika mendengar asal sukunya, seketika orang-orang di sekelilingnya pun ketakutan sebab Bani Ghifar saat itu terkenal dengan perampok yang sangat kejam.
Maka siapa yang tidak terkejut. Di saat Islam baru saja lahir dan masih bergerak secara sembunyi-sembunyi, ada seseorang dari Bani Ghifar yang jauh dari Mekkah dan bukan berasal dari suku Quraisy, sengaja datang kepada Rasulullah ﷺ untuk menyatakan keimanannya?
Maka sungguh Allah ﷻ yang memberikan hikmah kepada siapa yang Ia kehendaki. Abu Dzar Al-Ghifari, yang dahulu betapa mudahnya menghunuskan pedang kepada seseorang, seketika hatinya lembut karena ingat pesan yang disampaikan kekasihnya, Rasulullah ﷺ, yang melarangnya untuk saling membunuh.

Pada suatu hari di Madinah, barisan panjang bergerak pasti menuju pinggiran kota. Gemuruh takbir yang terdengar menandakan keislaman mereka. Tatkala rombongan itu masuk ke dalam kota dan bergerak memasuki Masjid Nabawi, ternyata mereka tiada lain adalah kabilah Bani Ghifar. Semuanya telah masuk Islam tanpa kecuali; laki-laki, perempuan, orang tua, remaja dan anak-anak. Mereka menerima Islam berkat dakwah, yang tak lain dan tak bukan, seorang Abu Dzar.

Rasulullah ﷺ semakin takjub dan kagum. Beliau bersabda, “Takkan pernah lagi dijumpai di bawah langit ini, orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar. Benar batinnya, benar juga lahirnya. Benar akidahnya, benar juga ucapannya.”

Ialah Abu Dzar Al-Ghifari, yang ketika ia memeluk Islam, penyalahgunaan kekuasaan dan penumpukan harta yang berlebihan oleh kaumnya dapat ia bendung dengan mengingatkan mereka akan ayat Allah ﷻ:

“(Ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka Jahanam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung dan punggung mereka (seraya dikatakan) kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.”
(QS. At-Taubah ayat 34)

Ketika perang Tabuk melawan Romawi pada tahun kesembilan Hijriyah, Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Dzar. Ia berjalan sebatang kara, meninggal sebatang kara dan nanti dibangkitkan sebatang kara”.

Berkata Imam Ali radhiyallahu anhu: “Tak seorang pun tinggal sekarang ini yang tidak memperdulikan celaan orang dalam menegakkan agama Allah, kecuali Abu Dzar”.

Hidupnya dibaktikan untuk menentang penyalahgunaan kekuasaan dan penumpukan harta. Untuk menjatuhkan yang salah dan menegakkan yang benar! Mengambil alih tanggung jawab untuk menyampaikan nasihat dan peringatan!

Demikianlah Al-Qur’an mendidik orang beriman untuk berpegang teguh kepadanya dan menjadikannya pedoman hidup. Sungguh, mereka telah menyadari bahwa sungguh benar apa yang disampaikan oleh Al-Qur’an melalui Rasul-Nya.

Bersemangatlah untuk berubah menjadi baik, sekecil apapun itu, karena tidak ada kebaikan yang sia-sia di sisi Allah ﷻ. Semoga kita semua dapat memperoleh hikmah layaknya Abu Dzar Al-Ghifari mendapatkannya.”

Link Instagram:
https://www.instagram.com/p/CH2rzEPMnYN/

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *